Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

... ada sinar bulan di sana, dan kau terbang

Journal

Blog EntryJan 29, '12 8:06 AM
for everyone
Bulan November tahun kemarin, 2011, saya coba membuat buku independent sendiri. Meskipun saya tidak ada pengalaman sama sekali untuk membuat buku, saya mencobanya, dan akhirnya jadi juga. Ini tidak terlepas dari bantuan istri, yang punya pengalaman membuat buku atau bahan2 utk presentasi di kantornya. Sedikit melelahkan, tetapi mempunyai kesenangan dan kebahagiaan tersendiri saat buku tersebut jadi dan secara fisik dapat saya pegang :).

Berbeda mungkin bila kita mempunyai koleksi foto, dan meng-uploadnya ke web pribadi atau ke komunitas foto di internet. Buku independent seperti kembali ke usaha2 manual, secara tradisional mungkin, untuk mendekatkan pada pekerjaan tangan secara fisik dan dapat tersentuh. Rasanya akan lain, saat tangan menyentuh, membuka, dan melihat, dan mengapresiasikannya. Bukan hanya itu, buku independent mendekatkan hasil pekerjaan kita kepada orang secara langsung, dan tidak selesai setelah membuka dan melihatnya. Ada saat kita akan membukannya kembali, menimang-nimangnya, dan mungkin mendapatkannya kembali sebagai kenang2an kelak. Ada sebuah perjuangan untuk menghasilkan dan mendapatkannya. Kita kembali kepada kesenangan kerja yang imbal balik kepada rasa, hasrat itu sendiri.

Buku ini saya beri judul, Kota, Waktu dan Hasrat. Semula agak sulit untuk memberikan sebuah judul yang bagiku tepat untuk mengambarkan isi buku ini. Karena memang isi foto yang ada di dalamnya adalah sebuah koleksi foto, selama mungkin hampir setahun saya berjalan di sepanjang jalanan Jakarta. Jadi saat campuran antara desah hasrat dalam lintasan waktu dan ruang kota yang padat, membuncah dalam foto-foto ini. Semoga, itulah yang tertampil di situ. Memberikan pandangan lain dari apa yang bisa saya tangkap dengan indera, dan kemudian dengan cepat menekan tombol shutter kamera, cahaya membakar, membekas dalam bidang film seluloid, tercetak dalam buku ini. Inilah urban Jakarta, dalam kesenangan hasratku dalam foto.   


-alan-
    

Blog EntryJan 25, '12 10:22 AM
for everyone
Saya mengikuti serombongan anak2 yang pagi2 berangkat ke sekolah. Di tepian trotoar yg tidak lagi berupa trotoar mulus. Di tepian jalan raya yang ramai, kami tampak bersemangat untuk memulai hari, pagi itu. Langkah cepat, langkah kaki kami berayun menapak tanah keras variasi aspal dan tanah merah. Sesekali suara derum kendaraan menerpa angin pagi yg seharusnya basah menjadi kering campuran asap knalpot dan teriakkan kernet campur deking motor. Hanya langkah2 kami penuh keceriaan. Seakan menghilangkan segala gangguan tadi, menjadi sekedar gangguan kecil yg tidak berarti.

Baju corak batik warna hijau, rapi bersih, menempel di tubuh anak2 itu. Tas mickey mouse warna pink terlihat tersenyum di sana. Sepatu hitam seragam dengan kaos putih, memberikan kesan senada di antara gerak2 cepat kaki menyusur tepian jalan. Entah kenapa, saya ingin kembali ke masa kecil dulu. Saat keceriaan tidak akan pernah tergantikan. Saat langkah2 tiada berbeban. Saat hidup hanyalah mimpi2 kecil yg tiada habis. Ah nostalgia.....

Kami kemudian berpisah saat menaiki jembatan penyeberangan. Anak-anak itu lurus, menyeberangi jembatan, sedangkan saya musti berbelok masuk ke shelter tunggu busway. Foto ini saya ambil di awal bulan Oktober 2010. Hampir satu setengah tahun yang lalu. Sudah cukup lama kiranya. Dan mungkin pertemuan langkah2 kaki dengan anak2 ini sulit untuk terulang kembali. Menginggat saya sudah pindah daerah, berbeda jalur berangkatnya. Dan dengan foto ini saya ingin coba mengingatkan kembali. Tentang saat2 indah pagi itu. Jangan cepat untuk di lupakan.


-alan-

Blog EntryJan 24, '12 9:30 AM
for everyone
Di sekitaran bulan Oktober di tahun 2010, saya mencoba untuk melakukan sedikit eksperimen mem-foto untuk mendapatkan gambar-gambar blur, berbayang, buram, dalam nuansa hitam putih. Beberapa kali saya melakukan pengambilan foto ini, di daerah Pasar Minggu, saat subuh. Pas dingin-dinginnya, dan pas ngantuk2nya, dengan tekad membaja saya berangkat untuk mencoba peruntungan mendapatkan hasil foto blur ini. Dan memang, setelah saya meninggalkan aktivitas foto seperti ini, dan kemudian menenggok kembali hasil karya saya ini di harddisk, setelah beberapa bulan, setahun lebih kebelakang malah, saya merasakan sebuah kepuasan tersendiri. Ada keunikkan tersendiri yang tidak bisa secara lugas saya ungkapkan.

Seperti pasar-pasar tradisional yang lain, Pasar Minggu saat subuh sangatlah ramai. Pedagang pasar di dominasi oleh para penjual sayuran, buah2an, ikan atau daging, begitu hiruk pikuk larut dalam aktivitas jual beli. Momen ini yang ingin saya tangkap, bagaimana suasana pasar dengan para penjual-pembeli melebur dalam sepetak area yang di namakan pasar tersebut. Meskipun subuh langit masih gelap, tetapi lampu-lampu temporer,baik bohlam, neon atau petromax, yang di pasang pedagang di tiap-tiap lapaknya bisa memberikan pencahayaan yang unik. Kontras antara gelap dan terang, berbaur dengan manusia yg bergerak terus menerus, mengandaikan seperti lampu yang terpasang dalam material fluid yang bergoyang-goyang. Dan saya mencoba dengan sabar mengabadikannya.

Saya lupa, apakah foto-foto ini pernah saya perlihatkan di blog yg lain atau di web facebook-ku. Hanya untuk di blog ini, belum pernah. Dan mungkin minat para pencinta foto untuk foto2 blur di Indonesia ini sangatlah sedikit. Kebanyakkan memang menikmati foto bergaya cerah, jernih, dengan kelugasan objek yang ingin di perlihatkan. Baik itu untuk tema-tema landscaper, makro, model, strobist, dll. Saya hanya ingin mencoba hal yang lain, dan sungguh ini menyenangkan. Keunikkan yang sulit saya temukan di tema foto-foto yang lain. Untuk sekali ini saya mencoba untuk mengagumi hasil karya sendiri. Tidak mengapa khan...hahahahaaa...

-alan-              



























Blog EntryJan 24, '12 8:28 AM
for everyone
Bulan januari ini, komunitas foto di kantor kami mengadakan lomba kecil2an untuk para anggotanya. Lomba untuk foto-foto yang di ambil dari kamera handphone atau smartphone. Temanya bebas, dan boleh melakukan editing untuk foto-foto yang ingin di tampilkan. Pokoknya hasil foto sesuai selera masing2, yang penting tidak berbau sara atau mungkin jorok2an pornografi :).
Maksimal yang boleh di submit oleh tiap orang adalah 3 foto. Dan ini 3 foto yang saya kirim itu. Dua foto yang paling atas, saya ambil memakai kamera BB Gemini 8520. Foto yang terakhir, memakai Sony Ericsson K770i. Nuansa foto jalanan, pastinya :) . Doakan saya menang....wkwkwkkk..

-alan-

  

Blog EntryJan 18, '12 8:56 AM
for everyone
Saya selalu tertarik dengan foto-foto buram. Mungkin buram,di satu sisi memperlihatkan kesuraman, di sisi yang lain, dia mampu memberikan sebuah alternatif lain dalam realitas keseharian yg kita lihat dan alami. Inilah mungkin titik paling dalam ketertarikan itu. Apa yg kita lihat, bukan hanya struktur sederhana, dan kompleks. Lebih dari itu, terkadang tidak terpahami. Memberikan batas jauh, dari pemahaman kita2 sebagai petualang dalam keseharian. Bahwa petualangan kita masih belum selesai. Banyak hal yang bisa kita dalami, untuk mendapatkan sebuah makna baru dari apa yang kita lihat dan alami.

Suatu ketika saya naik dari Kampung Melayu menuju ke Pasar Minggu menggunakan angkot. Penumpang tidak banyak. Hanya beberapa yang naik, kemudian mereka turun di jalan setelah beberapa saat. Terkadang saya sendirian di angkot tersebut. Jadi ada kesempatan, tanpa harus malu, untuk mengabadikan moment malam itu menggunakan kamera handphone Sony Ericsson yg saya bawa. Kamera handphone praktis kecil, dengan hasil yang optimal. Meskipun agak lambat processornya, untuk proses pengambilan gambar. Inilah hasil2nya. Foto-foto streeet yang bisa saya ambil, tentang warna suram itu.

Malam, sehari-hari di Jakarta selalu di isi dengan kebisingan. Motor, mobil, bajaj, berlalu dengan sesak asap knalpot, dan dengking suara knalpot yang begitu bising. Ruang seakan di duduki oleh barang-barang modern, yang di samping mempermudah, membantu kehidupan, sekaligus menimpakan beban psikologis yang tidak dapat di ukur. Bising knalpot, klakson, hingga teriakan2 dari sumpah serapah di jalanan, membebani psikologis kita. Kita menerimanya, dan menyimpannya dalam bank-bank kesadaran dan ketidaksadaran manusia itu sendiri. Agresifitas menjadi naik. Emosi mudah tersulut. Dan ini mungkin awal dari pertengkaran hingga bentrokan fisik menjadi salah satu hal yang di picu dari keseharian di jalanan.  

Saat mendapatkan foto-foto buram ini, saya seakan terhenyak, pada sekeliling yg menjadi lain. Keheningan seakan muncul, manusia di posisikan di lingkaran terluar, seakan hanya untuk mengamati, kemudian terlempar pada keheningan. Inikah dunia yang sehari-hari saya alami, dan tidak merasakannya ? Hingga saya menemukannya kembali dalam bentuk gambar-gambar foto yang sebelumnya tidak pernah terduga. Seperti ketidaksengajaan yang di sengaja kemudian. Untuk hadir, dan dapat di foto secara samar-samar. Buram menjadi bagian, tak terpisahkan. Lipatan-lipatan, yang tiba-tiba hadir. Membombardir, setelah intensi kita buka untuk sejenak dengan sabar menunggu.

Mungkinkah, setelah itu kehidupan menjadi lain. Saat singkapan terbuka, dan kecil bagian yg tidak kita ketahui, perlahan-lahan muncul ? Perlahan-lahan, namun pasti, ketersingkapan itu menjadi sebuah tautan wawasan pada pengalaman selanjutnya. Bahwa dunia lain menunggu, dari uluran tangan manusia untuk membukanya.


-alan-   

Blog EntryJan 13, '12 10:27 AM
for everyone
Saya coba mengambil gambar dari hape blackberry Gemini setiap jalan dari rumah ke tempat kerja atau sebaliknya. Ini sebenarnya iseng saja. Dan di warnai dengan software web Pixlr (http://pixlr.com/o-matic/). Sama sekali tidak saya crop, hanya di warnai dengan software web tersebut.

Di era digital, proses untuk meng-capture, dan membuat gambar foto, rasanya begitu cepat. Sangat cepat malah. Dalam hitungan detik, obyek yg kita inginkan dapat langsung kita foto, kemudian tahu hasilnya saat itu. Dan dalam era digital, teknologi penyimpanan juga sudah sangat cangih, sehingga perulangan foto dapat kita lakukan sesuai dengan keinginan. Karena memang, kapasitas penyimpanan begitu besar dan melalui proses yg begitu cepat. Sehingga proses trial dan error untuk mendapatkan hasil foto yg kita inginkan, menjadi terbuka. Karena begitu cepatnya proses yg di lakukan di digital.  

Dan saking cangihnya, foto yg kita inginkan, dapat kita atur baik pencahayaannya, kontras, degradasi, noise, dll. Sehingga kenyataan objek yang kita foto tadi, bisa berbeda dari kondisi realnya. Semakin hari, software2 gratis dapat kita akses secara cepat dari internet, dan langsung kita ujicobakan pada foto-foto tersebut.

Ini adalah hasil ke-isengan itu. Moga menghibur.

-alan- 


Blog EntryJan 11, '12 9:14 AM
for everyone
Kemaluan, menjadi tema sentral dari gambar-gambar di dinding yang saya lihat di seputaran daerah Roxy. saya tidak tahu, apakah ini adalah gambar olok-olok, ataukah memang di sengaja di gambar sebagai suatu makna lain ? Banyak sekali gambar-gambar kemaluan ini. Dan menurutku ini begitu unik. Dengan bentuk gambar yang hampir sama, sepertinya beberapa orang yg menggambarkannya memiliki sebuah blue print yg sama mengenai "kemaluan" ini. Lonjong dan di beri garis horisontal/bulatan hitam pas di salah satu ujungnya, dan ujung yang satunya di beri bulatan 2 buah. Mereka menggambar, hampir persis seperti bentuk aslinya. Hanya mungkin di gambar ini lebih sederhana, karena hanya ingin menginformasikan sebuah maksud yg lebih langsung secara sederhana.

Gambar kemaluan ini sepertinya ingin secara vulgar di pertontonkan, secara mencolok pastinya. Hal yang menutupi, sekarang tidak ada lagi. Sehingga kemaluan yang di tutup, menutup malu, di buka lebar-lebar, dan semua menjadi tahu, dan melihatnya secara langsung. Aturan untuk menutup sudah tidak ada lagi. Semuanya telah di buka. Norma2 telah di langgar dengan membukanya. Orang yang melihatnya pun akan malu. Rasa malu di sebarkan, rasa jenggah mengintip keluar. Inilah mungkin olok-olok itu. Pemberontakkan dari aturan, pemberontakkan dari norma, pemberontakkan dari tali kekang.

-alan-   


Blog EntryJan 10, '12 9:58 AM
for everyone
Gerak manusia, apa yg kita lihat daripadanya, seperti sebuah ketertarikan tersendiri. Mulai dari wajah, badan, tangan, hingga kaki seperti sebuah kesatuan yang menegaskan manusia bergerak utuh dengan tubuhnya. Ada perbedaan pasti antara tubuh yang telah berumur (tua) dengan yang masih muda saat mereka bergerak. Atau setiap perubahan mimik muka, memperlihatkan pula apa yg mereka rasakan, misalkan saat kepanasan. Atau tarikan kepayahan pada gerobak yg mereka tarik, memperlihatkan gerak2 tubuh yg khas mengalami kelelahan.

Saat manusia berkumpul, dan berinteraksi, terlihat benar bahwa tiap individu yg pasti memiliki keunikan tersendiri, memiliki kesamaanya dengan individu yang lain. Dari cara mereka saling memandang, berbicara, tertawa mungkin, berdiri melihat sesuatu hal, dan lain sebagainya. Mereka tidak bisa terlepas dari satu dengan yang lainnya. Interaksi mungkin mengandaikan sebuah kesamaan yang akhirnya bisa di terima antar individu tersebut. Inilah mungkin yang menarik. Karena semakin perbedaan di rasakan oleh lawan interaksinya, semakin sulit sebuah komunikasi di bangun atau singgungan yg lebih dalam dpt terjadi.   

Beberapa foto yang saya abadikan saat jalan2 ke pasar Tanah Abang. Sentra jual beli pakaian yang terbesar di Jakarta. Semoga dapat di nikmati.
-alan-

Blog EntryJan 10, '12 9:04 AM
for everyone
Memasuki kepadatan perumahan dan melihat ke atas, sulur-sulur kabel PLN selalu menarik perhatian saya. Sulur-sulur menjadi ornamen lain dari background langit yang semula adalah monoton dari warna biru atau putih awan. Sekarang, larik2 hitam, sulur-sulur kabel PLN menjadi variasi dari kemonotonan itu. Menjadi noktah-noktah bergaris silang menyilang, mencoret-coret kekakuan latar yang datar.

Seakan gambaran alam yang di identikan gambaran langit, ternodai secara apik oleh gambaran olah manusia, yaitu sulur2 kabel PLN. Olah kerja manusia, yang tidak beraturan, seolah menjadi gambaran kerja alam yang perlahan kemudian bertambah terus bertambah tanpa sebuah perencanaan. Gambaran silang menyilang, tak beraturan, menjadi bukan lagi identik olah manusia, sekarang menjadi gambaran kerja alam.

Modernitas mungkin awal dari gambaran ini. Bagaimana listrik di temukan, menjadi kebutuhan, dan sulur2 kabel PLN ini kemudian di tarik menjadi media untuk menyalurkan energi kebutuhan tersebut. Maka manusia secara tidak langsung ikut mempengaruhi alam. Alam di rekayasa, alam di eksplorasi, dan alam memperlihatkan penampakkannya dari singgungan dengan manusia tsb. Semakin bertumbuhnya masyarakat, penambahan jumlah penduduk, alam ikut pula berubah. Dan mungkin tanpa manusia pun, alam akan berubah. Hanya perubahan yang saya gambarkan ini adalah gambaran resultansi dari singgungan ini. Dan saya melihat singgungan ini, saat memandang langit saat siang ke Tanah Abang.

-alan- 

Blog EntryJan 9, '12 8:26 AM
for everyone
Kau tidur, Dinda.
Aku di sampingmu, menunggu. 

Blog EntryJan 9, '12 8:17 AM
for everyone
Beberapa lukisan pinggir jalan, saya ambil fotonya. Ini salah satu foto lukisan itu. Di ambil di sekitar daeerah Roxy.

Saya sempat membayangkan gambaran setan. Dimana muka aneh itu bercampur dengan tanduk di kepalanya. Gambaran manusia yang tidak juga menggambarkan manusia. Tampak aneh, dan memunculkan kesan seram. Rambut yang awut2an, memudarkan untuk menebak apakah makhluk ini berkelamin perempuan atau laki-laki. Tampilan perempuan atau laki-laki, seakan tidak tergambar secara nyata di lukisan ini. Mungkin inilah tampilan makhluk tak berwadaq sebagai realisasi dari makna transenden yg tidak bisa kita raba. Mungkin kenyataan roh menjadi esensi sentral dari arti dari lukisan ini.

Sama mungkin dengan tampilan patung Budha, di mana realitas kecondongan pada jenis gender tertentu tidak tampak nyata. Dimana Budha tersenyum, dan senyumnya itu memudarkan untuk melihat persepsi dunia yang telah memecah-mecah itu dalam salah satu penggolongan tertentu. Makna transenden yang tidak mungkin di raba oleh manusia menjadi penampakkan nyata dari realitas indra di depan kita.

Tetapi lukisan2 di sepanjang jalan ini, rasanya bukan hanya makna2 imajiner dari bayangan saya sendiri. Ini mungkin representasi, dari pelukisnya yang ingin mengambarkan dirinya secara lebih vulgar dan tak terpahami oleh siapapun. Mematerialkan gambaran-gambaran imajinernya yg meletup-letup di kepalanya dalam kuas di tangannya, dan menyentuh kasar dinding tembok jalanan. Pemandangnya kemudian dapat mengintepretasi apapun. Tanpa harus terdikte oleh pengalaman dan bentuk pengetahuan indoktriner diriya. Rasanya ini menjadi kekayaan tersendiri.

-alan-   

Blog EntryJan 6, '12 9:48 AM
for everyone
Ada benarnya juga bahwa sebuah foto bisa menampilkan suatu eksplorasi pada waktu. Gambaran makna waktu lampau, kini dan masa yang akan datang, seakan tertampil pada sebuah foto. Tiga komponen waktu tersebut, menjadi pergulatan sendiri si pemandang foto tersebut untuk mampu memunculkannya. Meskipun intensi si pemandang, menjadi sebuah permasalahan yang begitu kompleks.

Saya meyakini setiap pemaknaan akan foto, memberikan kompleksitas tersendiri untuk memahaminya. Tiap makna yang kita tangkap, saat seketika juga terlepas, dan bisa memunculkan makna yang baru. Kompleksitas yang membawa kita untuk menunda, apa yg mungkin menjadi makna foto tsb. Menunda dan menunda. Tetapi bukankah kita dengan menunda, kesenangan kitapun juga akan tertunda ? :)

Dan mungkin makna foto pun bisa di artikan berbeda, menurut penggalan2 waktu. Penggalan2 penundaan sang pemandang. Tetapi saya tidak akan terjun di sini. Biarlah semua ulasan teori yang mungkin membinggungkan tertimbun di serakkan makna.

-alan- 

Blog EntryJan 6, '12 9:03 AM
for everyone
Mereka begitu tenang tidur di jalanan. Mungkin tanah, jalan, petak-petak di ruang terbuka menjadi bed mewah yang tidak bisa menandingi kenyamanan tidur mereka. Angin yang sliweran, menjadi pendingin dan penghangat sekaligus. Lha itu buktinya mereka nyaman tidur. Kalo saya, paling sudah kena masuk angin kalo tidur di sana.

Mungkin kemiskinanlah yang memaksa mereka tidur di jalanan. Tiada atap rumah permanen yang bisa menaungi. Yang bisa membebaskan mereka dari air hujan yang sewaktu-waktu bisa jatuh dan menimpa tubuh mereka. Bebas dari angin sliweran yang membuat badan pegal2 karena masuk angin. Atau bebas dari debu, yang membuat kulit mereka menjadi menghitam kotor. Kemiskinan yang telah merasuk secara struktural, dan terbukti terjadi kegamangan kita-kita yang mampu secara materiil untuk membantu mereka.   

Tubuh-tubuh mereka akhirnya menjadi tanda, bahwa ketimpangan kesejahteraan di negeri ini tidak bisa di tutup-tutupi. Setiap mata yang memandang, menjadi saksi. Saya, kamu, dan hadirin sekalian.

-alan-

Blog EntryJan 4, '12 9:36 AM
for everyone
Sudah beberapa bulan, aku tidak bermimpi di kejar-kejar. Terkadang ada perasaan bingung setelah mimpi itu, ada hal yang aneh. Mimpi yang tidak pernah kubayangkan mengalaminya, karena memang itu adalah mimpi di mana kita hanya menerimanya. Sesekali di kejar oleh satu orang, atau mungkin beberapa orang sekaligus. Hanya wajah mereka tidak tampak, atau mungkin tidak aku ingat setelah terbangun. Kejar-kejaran di ladang, atau mungkin di hutan, yang sama sekali tidak aku tahu di mana. Terkadang pula badan lelah, setelah bermimpi, tetapi adakalanya tidak sama sekali. Suatu kejadian yang begitu aneh menurutku.

Tidak ada sebuah jawaban, mengapa mimpi tersebut seakan meneror. Apakah ada suatu masalah ? Sehingga alam bawah sadarku bereaksi demikian. Ataukah cuma bunga tidur saja. Akibat proses kimiawi biasa di dalam otak yang mungkin mengalami kelelahan atau proses alamiah lainnya. Tidak ada jawaban yang pasti. Tidak ada primbon wajib yang harus aku baca untuk menerangkan hal itu. Banyak buku, ataupun pengetahuan lainnya yang coba aku peroleh, tidak memberikan sebuah gambaran jawaban. Misteri yang masih mengendon, dan diam2 terkadang muncul dalam lamunan-lamunan isengku kini.

Saya ingin membandingkannya dengan seekor kucing, yang tiba-tiba saya tangkap penampakkannya di jalanan. Kucing ini berjalan pelan melintas jalan raya sewaktu pagi yang lengang. Dapat kukejar, dan seketika itu saya ambil foto lintasan gerak tubuhnya. Matahari yang bersinar terik, membuat bayang2 membuntuti langkahnya. Seperti sebuah cermin,seakan-akan tubuhnya menjadi double. Pantulan dari cerminan jalanan, dirinya menjadi kembar, antara keaslian tubuhnya dan kembarannya yang palsu, yang bukan dirinya.

Si kucing, memiliki representasi dirinya, meskipun bukan dirinya yang asli. Dia hanya bayang-bayang. Yang tetap mengikuti dirinya kemana dia pergi. Penggalan dirinya, menjadi utuh dengan kehadiran bayang-bayang itu. Tetapi kembaran palsu ini, akan mungkin segera hilang dengan terik sinar matahari yang meredup. Penggawal yang kontigen.Terkadang ada terkadang tidak. Lentur, tidak terbelit oleh kekakuan, akan keberadaan dirinya.

Mimpi seperti bayang-bayang yang hadir, kemudian serta merta hilang saat kita terbangun dan kemudian lupa. Tetapi seperti bayang2 si kucing, bayang tersebut mungkin memperlihatkan representasi dirinya dalam bentuk yang lain. Dia, bayang-bayang, adalah dirinya tetapi juga palsu. Hinggap sebagai nilai eksistensi, tetapi kemudian hilang tak berbekas sewaktu-waktu. Terbang dari ketehinggapan, entah kemana.

Kita tidak bisa menghadirkan sebuah bayang2 yang lengkap dan kemudian dapat kita uraikan dalam sebuah teori yang utuh. Mungkin ini masuk ke dalam suatu misteri luas, yang mungkin belum bisa kita jangkau. Sulit kita raih, masukkan ke dalam kotak, kemudian di uraikan menurut sifat-sifatnya. Tetapi bagi saya sendiri, ini seperti masuk ke dalam pengalaman baru. Pengalaman yang belum pernah di alami sebelumnya, dan ini suatu tanda untuk masuk ke dalam level baru pemahaman eksistensi diriku. Sebuah tantangan baru, kalo kita mau melihat dari sisi yang berbeda.

-alan-   

Blog EntryJan 3, '12 9:18 AM
for everyone
Di era 50-60an, siapa mungkin yg tidak kenal Marilyn Monroe ? Salah satu icon kecantikan, mungkin sampai sekarangpun demikian. Ini pun tidak saya duga, sempat menemui gambarnya di salah satu sudut rumah saat jalan-jalan motret. Icon itu seperti hantu yang terus mambayangi dunia hingga sampai sekarang. Wajahnya terpampang,di tempel di sudut rumah, menjadi tampilan yang bisa diacu pada apa itu yang di sebut cantik atau apa itu kesempurnaan.

Mungkin gambaran indah, cantik, itu adalah rambut berombak mengembang. Kalo bisa langsung di sesuaikan dengan rambut Marilyn yg pirang. Kulit putih mulus, terpancar apabila terkena sinar matahari atau lampu. Bibir sensual di tandai dengan bibir tebal, merah, dan basah. Ouuccchhhhh.... merangsang.

Yang menjadi pertanyaan hingga kini, jarang saya mendapatkan icon yang memang benar-benar sesuai dengan tampilan perempuan Indonesia tertempel di dinding2 rumah. Rambut lurus panjang, kulit agak kecoklatan bersawo matang, bibir tebal tapi tidak harus terlalu merah, dan yang pasti memakai pakaian tradisional Indonesia. Jarang, saya menemukan bahwa salon2, atau tempat potong rambut, menempel icon layak perempuan Indonesia ini di dinding2nya.     

Saya yakin bahwa Marilyn Monroe, di tiru bukan hanya mempunyai standar wanita cantik saja. Dia menjadi icon, juga mengenai persepsi gaya hidup modern dan pengarahan media mengenai apa yang di sebut sebagai hal sempurna itu, misal mengenai keseluruhan tubuhnya dari bentuk, warna, hingga gesture tubuh. Hal inilah yang kemudian di adopsi oleh perempuan2 di belahan dunia lain.

Apabila icon perempuan Indonesia, saya tunjuk misal Ibu Kartini, saya yakin bahwa gambar foto Ibu Kartini tidak akan bisa tertempel di salon2 kecantikan atau tempelan2 dinding potong rambut. Ada inferioritas budaya di sini tampaknya, yg menghambat untuk memunculkan tampilan tubuh sebangsanya di jadikan gambaran figur publik kecantikan hingga ke gaya hidup.

-alan-

Blog EntryDec 31, '11 8:41 AM
for everyone
Seakan kita tidak akan lepas dari bayang-bayang. Menyertai, seperti nafas yang terus memberi kita keluasan, dan kelapangan dalam bergerak dan hidup. Seperti lalat yang akan memburu saat bau muncul dan mentotol badan kita dengan kesenangannya. Dan bayang-bayang seperti nafas dan alat, yang menyertai gerak, kesenangan kita selalu. Kemanapun itu. Bayang-bayang, dalam lingkaran kehidupan yang tak pernah berhenti.

Aku hanya tertarik dengan bayang-bayang ini. Saat matahari melintas dari sela-sela cagak tiang telephone. Kabel-kabelnya menuai bayang-bayang di jalan beraspal yang panas. Hampir seperempat jalanan tertimpa bayang-bayang ini, seperti larik-larik batik yang di goreskan oleh canting karena lilin panas yang menimpa kain katun abu-abu. Ornamen dari larik yang akan selalu menyertai kita, saat matahari menyinar dengan panas ke bumi. Saat sinar lampu2 menghempaskan ion2 pendarannya ke objek di sekitarnya. Itulah bayang-bayang, menyertai kemanapun kita pergi.

Hanya kapan mungkin kita tahu, bahwa bayang-bayang akan menyertai kita ? Pengalaman mengandaikan pada keterpenggalan makna yang begitu kronis. Pengalaman menyertai dalam keseharian suatu rutinitas, yang kemudian memenggal makna keberadaannya. Suatu kehilangan saat bayang hanya sekedar penggalan makna sekelumit, kemudian kita tinggalkan. Kita di tinggalkan untuk lumpuh selamanya, karena manusia akhirnya adalah rutinitas. Makna tertinggal di luar dan jauh meninggalkan kita.

Apa makna magis sebuah bayang-bayang ? Apakah cuma monoton penggambaran dari nilai estetik manusia yang di angkat ke dataran pemaknaan ? Ataukah dia adalah hakekat tunggal yang masih jauh dari langkah2 logis pemikiran manusia itu. Mungkin sebuah misteri saat kita masuk dalam realitas yang selalu mendampingi manusia itu, bayang-bayang.

-alan- 

Blog EntryDec 31, '11 5:57 AM
for everyone
Masuk ke gang sempit diantara rumah2 perkampungan padat, mungkin seperti masuk ke dalam lorong labirin panjang. Memasuki suatu tempat, dengan lorong panjang, yang rasanya tiada berakhir. Gang-gang sempit, temaram, terkadang lembab, dan memicu suatu khayalan misterius tampaknya. Aku berujar pada diri sendiri, bahwa ini bukan tempat manusia hidup secara normal. Di sini adalah titik marjinal, tersingkir, di mana manusia di buang, dan di situlah manusia di kutuk untuk hidup. Mungkin uraianku terlalu melebih-lebihkan. Hanya itu mungkin pikiran di dalam otakku.

Sekian kali aku masuk ke dalam gang2 sempit ini, sekian kali muncul ketidaktahuanku. Mengapa gang ini begitu aneh. Karena kehidupan adalah ruang bebas, dan luas, mungkin gang sempit menjadi sebuah oposisi terhadap maksud kehidupan ruang bebas ini. Menjadi pembeda, dan pembedah bahwa terdapat ruang2 lain dalam dunia hidup yang begitu beragam. Mungkin temaram di gang sempit ini memaksaku untuk mengkhayalkan suatu hal yang lain. Bahwa lembab di gang sempit ini, kemudian memaksakan udaranya masuk ke dalam otak, yg memacu sebuah histeria tersendiri. Bahwa ruang2 yang sempit ini, merangsang kulit dan darah di sekitarnya untuk bersensasi aneh akan sebuah keterperangkapan pada tubuh. Aku tidak tahu, mengapa semua mengalir begitu saja dalam perangkap pikiran ini. Hanya aku tidak ingin berujar, mengenai mengapa manusia musti terlempar di gang2 sempit ini ? Sebab bagaimanapun manusia adalah survivor terkuat di muka bumi. Dan gang sempit menjadi beragam ruang dan sensasi dalam beragam ruang hidup ini.

Saat penduduk menjadi semakin banyak, dengan ruang hidup yang tidak bisa di antisipasi sebelumnya, maka gang2 sempit akan tumbuh menjamur dalam ruang hidup modern ke depan. Ini mungkin bukan hanya seraut kecil dari kehidupan di suatu area tertentu. Ini akan menjadi ruang hidup yang semakin melebar, dan setiap warga nanti akan menikmati apa itu gang sempit. Gang-gang yang akan menimbulkan sensasi dalam tiap kepala dan sensasi hidup manusia yang mengalaminya. Jutaan manusia, akan masuk ke dalam sensasi ini. Apakah ini adalah mungkin awal dari kegilaan ? Aku tidak terlalu paham akan ajaran2 psikologi tentang manusia. Atau mungkin manusia akan bertahan dengan mengabaikannya dalam keseharian hidup mereka. Entahlah.


-alan-       


Blog EntryDec 30, '11 8:07 PM
for everyone
Akhir-akhir tahun ini, sepeda sepertinya jadi trend. Orang berbondong-bondong membeli sepeda, mulai dari harga di bawah 1jutaan hingga yang harganya ratusan juta. Trend ini musiman, kemudian akan meluruh kembali bersamaan dengan meredupnya stamina masyarakat untuk memakainya. Dan semangat musiman ini, seperti menyuntikkan darah segar kembali pada kesenangan yang sudah lama terlupakan. Di samping sebagai alat transport, bersepeda di angkat menjadi alat keren2an, di samping utk olah raga untuk sebagian masyarakat.  

Di setiap acara jalan2 motret, beberapa kali saya mendapatkan gambar bagaimana bersepeda adalah aktivitas yg begitu merakyat. Mulai dari anak-anak hingga tua-tua. Dan untuk masyarakat lapisan bawah, bersepeda adalah alat bepergian yang murah. Bukan memakai acara, mentereng2an dan terkesan di paksakan untuk mengikuti trend orang2 berduit. Mereka memakainya karena memang simple, cepat, terjangkau murah di operasional sehari-hari. Bergenjotan ria setiap hari.

Meskipun sepeda yang mereka pakai sudah tampak tua, dan lusuh, bersepeda tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saat mereka mengayuh dengan sekuat tenaga mereka. Atau menuntunnya pelan, seakan mereka terhanyut dalam aktivitas ini. Wajah-wajah terpancar energi, semangat membuncah, bisa saya rasakan itu. Anak-anak bersepeda untuk kesenangan, bepergian menurut permainan yg mrk lakukan. Sedangkan yang tua-tua, bepergian untuk kerja, cari duit. Saat kita memandang mereka, semangat kitapun akan ikut terbawa. Kita jadi bersemangat pula, langkah tegap.

Ini mungkin aktivitas terbaik yang telah saya jepret di setiap jalan mem-foto. Sepeda melaju, ada ketegangan tersendiri untuk memastikan apa yang saya tangkap telah benar. Moment berlalu begitu cepat,  dan sebuah keberuntungan untuk mengabadikannya. Gerak tubuh mengayuh, badan yang di sesuaikan dengan arsitektur sepeda, gerak menuntun, lekuk-lekuk sepeda, hingga detail kulit permukaan sepeda, bisa saya lihat dan rasakan. Terpukau oleh keseluruhan gerak, aktivitas, dan penampakan sepeda.


-alan-  



Blog EntryDec 30, '11 6:11 PM
for everyone
Saya sempat teringat masa kecil saat memandang foto ini. Berlari, kejar-kejaran, canda tawa dengan teman-teman, bermain barang-barang yg di sekitar, semuanya dengan kegembiraan. Bermain di masa kecil, menjadi kenangan abadi yang terus tersimpan di memori ini. Hanya mungkin perbedaannya, masa kecil saya lalui di kota yg berbatasan dengan daerah pedesaan. Di mana tempat bermain masih luas. Mulai dari gang2 perumahan yang besar, lapangan-lapangan, hingga pesawahan yang seakan membentang tak kenal habisnya.

Anak-anak di foto ini, bermain di daerah padat di area yg berada di sekitaran stasiun Kota. Mereka memakai ruang kosong di depan rumah yang adalah jalan lalu lintas utama warga. Ini adalah jalan pintas, untuk orang-orang ke dan dari Mangga Dua - stasiun Kota. Yang akan melewati rumah-rumah padat non permanen yang di bangun dari tembok atau kayu-kayu sederhana. Dimana antara tempat tinggal dan ruang kerja, menjadi satu. Salah satu ciri khas dari masyarakat bawah, yang memang kebanyakan hidup di sektor informal.       

Jadi bisa di bayangkan bagaimana ruang bermain anak2 begitu sempit. Bermain dengan teman-temannya di jalan yang menjadi lalu lalang ramai warga. Terkadang, motor dengan kecepatan sedang hilir mudik, yang bisa membahayakan anak2 ini. Dan juga tempat tinggal yang sekaligus di jadikan tempat kerja, terkadang menyimpang aneka barang berat dan bersudut tajam yang bisa juga, apabila tidak berhati-hati dapat membahayakan anak2 ini.

Tetapi dunia bermain, akan tetap berjalan bagi anak2 ini. Saat mereka sudah berkumpul, acara bermain sudah bisa di mulai. Dengan atau tanpa mainan, kesenangan akan tetap jalan. Berlarian ke segala sudut. Tertawa berderai, ejek2an, sesekali apabila mereka jatuh lalu menangis. Tiada beban hidup. Dunia anak.

-alan- 

Blog EntryDec 29, '11 9:14 PM
for everyone
Mulai dari sore, cuaca begitu mendung. Seharusnya malamnya, hujan akan turun deras. Tetapi untung, malam itu hujan hanya rintik2. Rintik2 hujan yang turun, membuat tanah menjadi basah. Dan udara menjadi sedikit dingin, dari kegerahan panas yang sejak sore sudah menyengat.

Orang-orang tampak menyemut di pelataran depan, pas di pintu masuk outdoor Bulungan. Semua berpakaian hitam-hitam, dengan gambar-gambar unik khas lukisan gaya death metal. Kami masih menunggu di bukanya konser Napalm Death malam ini. Waktu itu tanggal 28 Juni 2011. Ini adalah konser tunggal, hanya grup band ini saja yang akan tampil. Waktu sekitar jam 7, ketika personil akhirnya datang. Dan akhirnya, pintu di buka.

Sekitar jam 9 malam, konser di mulai. Lama juga kami menunggu, mulai persiapan, check sound, hingga akhirnya konser di mulai. Teriakkan gitar begitu keras, dengan growl vocal yang menggedor telingga. Penonton mulai meringsek ke depan, dan saling membenturkan badan masing2. Dan saya dengan kamera di tangan mulai maju ke depan. Ingin memotret para begundal2 ini dari dekat. Musti berbenturan dengan para penonton yang saling jingkrak, dan berbenturan badan. Memastikan bahwa kamera yang saya pegang, terikat erat di tangan. Hanya satu kali, kamera saya hampir terlepas. Seorang bule gila, merancau tidak karuan, dan mencoba mendorong kamera saya pegang. Hanya untung, pegangan saya masih kuat. Saya mundur, untuk menjauhkan dari bule gila ini.

Terkadang saya tersenyum dalam hati. Saya lebih banyak konsen jepret foto daripada nikmatin nonton konsernya sendiri. Tidak terkendali apabila sudah asyik jepret2 moto ini. Sebelum mendapatkan hasil yang di inginkan, tidak akan puas. Dan akan terus berusaha kembali mendapatkan terbaik yang bisa saya dapatkan...heuheuee...

Inilah foto-foto konser Napalm Death itu (personel Napalm Death : Shane Embury; Mark "Barney" Greenway; Mitch Harris; Danny Herrera).




Pages:1234567