... ada sinar bulan di sana, dan kau terbang

Journal

Blog Entryserabut jejaringFeb 5, '10 6:14 PM
for everyone

Semalam kami bertiga bertemu. Ngobrol apapun yang ada di otak kami. Melenceng ke kiri ke kanan, tanpa arah. Hanya arahan itu seakan muncul saat ngobrol itu berjalan. Tanpa kami sadari pembicaraan akan mengarahkan pada sebuah tema sentral.

Kami berbicara mengenai kondisi urban Jakarta yang semakin hari semakin sesak dengan kemacetan di jalanan. Ruang-ruang hidup yang semakin sempit. Manusia makin berjejal dalam ruang sempit yang semakin mahal untuk di dapatkan. Polusi udara semakin pekat. Tanah dan air tercemar dengan racun berintensitas tinggi. Manusia tercekik oleh sekitarnya. Alam pun rusak, tak bisa membantu secara maksimal sebagai penopang hidup manusia.

Tapi di satu sisi kami melihat, bahwa dalam keruwetan itu, muncul oase-oase baru. Oase yang di harapkan dapat memberikan minimal kesegaran sebagai alternatif lain yang di tawarkan oleh urban Jakarta. Oase-oase sebagai tempat berseminya benih-benih berkesenian masyarakat. Oase untuk berdiskusi antar person dalam menyikapi gejala budaya masyarakat pop. Oase lingkungan, tempat kembalinya udara segar yang dapat kita hirup. Oase sebagai spot-spot di mana manusia dapat saling bertemu, berinteraksi, untuk mengembangkan dirinya secara lebih beradab.  

Oase-oase ini di topang oleh jejaring-jejaring. Jejaring dalam masyarakat urban, bagai akar serabut yang makin ruwet dan berkelindan. Tetapi julurannya makin jauh. Makin kuat, terhubung antar subjek-objek di dalamnya. Subjek adalah person-person yang saling berinteraksi. Objek menjadi suatu bentuk pencapaian yang ingin di raih. Makin lama, jejaring menjadi sebuah kebutuhan bagi person-person ini. Bukan sebagai kebutuhan komplementer biasa. Saling melingkupi, dalam pemenuhan penyempurnaan tiap pribadi.

Komunitas-komunitas maya dalam ruang internet/cyberspace berkembang dalam arah significant kecepatannya. Mereka terkadang melakukan kegiatan offline di ruang-ruang bebas, bercampur dengan alam, dalam ruang2 pribadi bersama, dalam interaksi bersama membangun identitas mereka. Individu menjadi sebuah pencampuran yang terkontaminasi. Tidak ada suatu individu yang sempurna individu. Mereka menjadi massa, dalam individu yang terkontaminasi. Hanya inilah, maka keunikan tiap individu muncul dalam arah yang lain.

Ada kesadaran sistemik untuk membangun sebuah sistem yang dapat mereka amini. Membangun kebutuhan identitas, kebutuhan praktis sehari-hari, kebanggunan dalam kebersamaan. Ingat film Lord of The Ring. Sang Mata Tunggal akhirnya dapat di kalahkan dengan kebersamaan dalam kebanggunan sistemik bersama.    

-alan-

note : foto di ambil pada tanggal 130110

 


Blog Entryisilah wadah kosong itu Jan 17, '10 8:07 AM
for everyone
Tanpa sadar, kucoba cerna kembali apa itu suatu realitas. Apa itu hakikat, bahwa manusia hidup, hidup, kemudian akhirnya dia mati, di kubur dalam tanah gelap pekat di bawah sana. Meskipun terbata-bata secara dalam mencoba untuk merefleksikan, merenung, mencari kiri-kanan pembenaran yang benar2 dapat di terima, realitas hanya membuka separo sesuai dengan tingkat indera dan akal budi manusia yang adalah diriku.

Sebenarnya ini adalah pertanyaan lampau. Begitu lampau, dan serasa kuno. Hanya kemudian muncul kembali. Akhirnya pertanyaan yang menyangkut eksistensi manusia berada pada tingkat di luar jangkauan waktu. Dia dapat di fikirkan, di renungkan, di eksplorasi, dan muncul saat dan di manapun. Jangkauan tempat, dia lampaui, seperti kebebasannya terhadap waktu. Seperti halnya manusia dapat melampauinya dengan mencoba merenungkannya dalam akal budinya, tetapi akhirnya pun terjebak dalam realitas konkret di mana dia hidup. Keseharian, kehidupan yang berputar, ajeg, di satu sisi adalah penjerat, di sisi lain menjadi pembebas manusia dalam hakikat eksistensinya. Bukankah begitu ?

Tadi pagi aku mendengar cerita mengenai Nabi Elia. Seorang janda miskin yang telah di tinggal mati suaminya, harus menanggung beban hidup yang berat, akhirnya meminta pertolongan kepada Nabi Elia. Dua anak semata wayangnya, hari itu akan di serahkan kepada para tuan sebagai budak belian, penukar hutang yang tidak dapat di bayarnya. Solusi tidak bisa di dapatkan. Kemiskinan telah menjerat, memojokkan, hingga anak menjadi taruhan sebagai ganti pembayaran. Dalam keadaan terjepit ini, si Janda meminta pertolongan kepada Elia.

Elia sebagai manifestasi kehadiran Allah Yahwe, menjadi sandaran bagi Janda untuk membebaskan dirinya. Di ceritakan kemudian, Elia meminta untuk menyediakan wadah-wadah kosong dengan jumlah yang banyak. Mukjizat terjadi, wadah-wadah kosong itu akhirnya terisi penuh dengan sedikit sisa minyak yang di punyai oleh Janda tersebut. Minyak inilah yang akhirnya di jual, dan hasilnya dapat di bayarkan menutupi utang si Janda.    

Aku sempat mencibir dengan uraian mukjizat ini. Bagaimana hidup, dalam suatu realitas konkret tersebut dapat di maknai tanpa sebuah mukjizat ? Apakah kau mengharapkan suatu mukjizat, yang mana tidak akan pernah terjadi ? Bagaimana hidup harus di jalani.

Siangnya, seorang Romo dalam khotbahnya memberikan sedikit gambaran. Mukjizat tidak akan pernah kita lihat, rasakan, dalam keberadaan kita sebagai manusia sehari-hari, apabila keegoan terus dan menerus bercokol di dalam diri manusia. Mencobalah berbagi dengan yang lain. Cobalah untuk mendoakan sesama, bergabunglah dengan mereka, bernyanyilah bersama, tulislah keseharianmu, dan tetaplah terus berdoa, maka mukjizat akan datang padamu.

Mungkin mukjizat ada dalam keseharian kita. Bekerja, dalam rutinitas keseharian. Bergabung dalam kebersamaan dengan sesama. Memberikan pelayanan kita, sesederhana apapun. Semoga.

-alan, buncit raya pulo, 170110, 20.00WIB-
note : foto di ambil di stasiun pasar minggu, 02 januari 2010

Blog Entryakan kemana ? Aug 8, '09 6:52 PM
for everyone
Menyusuri rel, naik kereta listrik Jabotabek, dan berhenti di beberapa stasiun. Capture-capture manusia yang begitu memikat. Membalik arah kembali pemahamanku, sekaligus mengacaukannya pada semesta alam yang begitu dalam dan luas. Semesta alam yang terpapar antara stasiun Pasar Minggu  hingga ke stasiun Kota di Jakarta.

Aku hanya ingin melepaskan kebuntuan, kepenatan yang bernaung di otak ini seminggu sebelumnya. Tak ada sebuah rekreasi yang mengasyikkan kiranya. Meskipun jalan ke mall atau singgah di cafe-cafe menengah, yang menuju pada kebosanan dan ketidak paduan antara penawaran dan kehadiran makna. Meskipun aku tahu ini adalah berasal dari kekacauan fikiran yang tak tahu apa penyebabnya, yang kedatangannya memberikan kecemasan yang tiada berakhir. Aku harus jalan, meskipun akan banyak bertemu dengan kekelaman-kekelaman yang mungkin bukan kekelaman hingga kegelapan bagi mereka. Menduga-duga yang terlalu berlebihan, tanpa pernah kita masuk dan bergumul di dalamnya. Hadir dalam taraf pemikiran awal yang masih terlalu kasar. Bukan mengalami dalam gesekan tubuh, penjalaran dalam semua indra, yang memampukan kita untuk hadir kembali dalam penafsiran yang berbeda.      

Jarak yang telah kita buat sejak awal. Sebuah pegangan pada kejatuhan yang tidak kita inginkan. Berpegang pada sebuah keyakinan, keyakinan praktis pada hidup yang berarah pada keterlindungan tubuh, daging yang bertumbuh sejak benih sperma bertemu dengan embrio pada rahim wanita. Perlindungan pada kematian, sebuah survival purba yang akan terus menghantui sebagai jarak pada pemandangan kita untuk menafsirkan semesta alam. Meskipun hidup menyatu dalam manusia, menafsirkan menjadi keberlainan saat jarak adalah kondisi real. Dia ada menjadi keberlainan  yang selalu hadir.      

Berjalan dan berjalan. Akankah kemudian berakhir ?


alan

Note : foto-foto di ambil (dari atas ke bawah) di Stasiun Pasar Minggu, Stasiun Tebet, dan Stasiun Manggarai Jakarta. Tanggal 19 Juli 2009.


Blog Entrycoretan bawahJul 23, '09 6:26 PM
for everyone
" Kelebihan anda adalah kesejahteraan, kekayaan, kebebasan, dan kedamaian" (Catatan dari Bawah Tanah, Fyodor Dostosyevski)

Novel dari Dostosyevski ini memang cukup menyentak. Si pencerita mencoba untuk melawan keinginan pada ke-4 hal tersebut di atas. Kesejahteraan, kekayaan, kebebasan, dan kedamaian. Mungkinkah ? Saat manusia-manusia berlomba untuk mencapainya. Berebut untuk mendapatkannya ? Adakalanya saling hantam, tipu menipu, jegal menjegal, hingga bunuh-bunuhan untuk memperolehnya. Apakah ini arah tujuan manusia sebenarnya ? Kalolah memang menjadi suatu keniscayaan, bahwa arah pasti manusia akan menuju pencapaian itu. Tidak mungkin ada penolakkan. Mungkinkah ?

Terlalu jauh untuk memikirkan ini. Saat manusia-manusia masih berjuang bagaimana untuk bisa hidup dari hari ke hari. Bukan dalam arti kiasan, "hidup dari hari ke hari". Tapi memang, kondisi real bagaimana mereka harus berjuang untuk bisa hidup hari ini. Besok akan di jalani besok. Biarkan sesak di rasakan sekarang. Dalam perjalanan menapak detik demi detik putaran waktu yang tak kunjung membalik. Jeratan di kerongkongan mereka tidak bisa di redakan hanya dengan pengalihan fikiran pada hal-hal lain. Kerucuk bunyi perut lapar, tidak akan bisa di redam dengan impian akan makanan. Semua begitu nyata, dan hadir di ketubuhan mereka. Bukan mirip katak yang merindukan bulan, impian ideal itu. Hanya serupa dengan gebukan satpol PP pada lapak-lapak mereka. Gebukan yang begitu nyata. Terkena kulit dan tulang terasa sakit. Bilur biru menjadi nostalgia nantinya, saat mereka terjengkang menuju kematian.      

Adakah kemarahan ? Tidak ada kemarahan yang berujud secara terpisah dari serpihan tubuh-tubuh. Kemarahan telah bertransformasi menjadi kerak-kerak pada dan dalam tubuh mereka. Saat kau pandang, mereka itulah kemarahan itu sendiri. Transformasi sebagai proses evolusi yang telah menuju pada kesempurnaannya. Tubuh-tubuh yang terbalut daging, di satukan dengan jiwa dan roh, menjadi balutan kemarahan yang telah sempurna. Cobalah sedikit bermain-main dengan mereka. Kau akan tahu apa itu kemarahan. Kemarahan pada wujud matang, sehabis di angkat dari penggorengan hidup yang begitu panas. Oh begitu nikmat matangnya kemarahan ini....

Bisa kau coret-coret tembok memakai spidol, cat dengan begitu senangnya. Tiap sisi menjadi grafitti. Apa arti keindahan, kerapian, atau yang bagimu adalah tertib aturan menjadi lain dari hidup di duniaku. Aku bisa tidur di manapun yang kumau. Tak kuhiraukan lalu lalang manusia yang adalah gangguan tidurku. Apabila ada maling, copet, yang ambil barang-barang dari orang lalu lalang, akan kuhajar sampai mampus. AKu terlalu khusuk dengan pekerjaanku, tak ingin di ganggu. Sesekali berbicara kasar dengan teman-teman, tak apalah. Tak ada yang musti kusembunyikan dari setiap kata yang ingin kuucapkan. Sebab tak akan ada pengaruhnya untuk diri ini juga. Antara kasar, halus, atau yang kau sebut beretika, tak ada itu. Semuanya sama, itulah ucapanku. Mungkin kau takut dengan kematian. Tiap saat, hidup seakan menghadang kematian. Menggelantung di kereta-kereta tak berpintu, naik di bubungan gedung tinggi tak berpengaman. Berlari-larian di sela-sela lalu lintas padat, atau sudahkah kau merasakan naik di tower-tower tinggi ? Antara hidup dan mati di pisahkan dengan batas tipis layak kulit bawang merah. Begitulah adanya. Aku berjalan.

Semoga kebahagian bernaung dalam diri tiap-tiap manusia. Meskipun tiada satupun kesejahteraan, kekayaan, kebebasan, dan kedamaian yang akan didapatkan. Ini terlalu jauh. Bukan sebuah penolakkan. Hanya ini di luar lingkaran area kehidupan kami. Meskipun pabila kami mendapatkannya, ini adalah keajaiban. Yang akan terwujud dalam reinkarnasi kami berikutnya, kiranya. Hidup di jalani, dan begitulah adanya. Lapar tak redakan kami untuk terus berjalan. Tiap titik, detik, dalam gerak menjadi keberartian pada perwujudan kemanusiaanku yang penuh. Untuk diri, orang lain, dan dunia. Semoga.

alan

note : foto "jalan panjang", di ambil di stasiun Tebet, 19 Juli 2009.

Blog Entrysulit menulisJun 26, '09 9:47 PM
for everyone
Banyak hal-hal yang terfikir di dalam otakku, sehingga aku mengalami kesulitan menulis pada
sebuah tema yang aku inginkan. Tidak kalah di sini adalah keragu-raguan pada tema yang ingin kutuliskan tersebut. Keraguan yang seakan mengoyahkan rangka utama dari bangunan tulisan itu nantinya. Sebuah rangka yang goyah dan rapuh, akhirnya tidak berani aku tuliskan. Karena akan memunculkan pengadaian-pengadaian mendua pada akhirnya.

Hal lain adalah kedalaman pada tulisan tersebut. Ini membutuhkan stamina yang terjaga dan besar. Di samping keberadaan kebutuhan waktu yang tidak bisa di tolerasi, menyedot anggaran waktu yang lumayan. Sehari-hari masih sibuk dengan pekerjaan kantor, di mana konsentrasi tercurah teramat besar di sana. Tenaga dan waktu di luar itu musti di paksakan keberadaannya sebagai extra bonus untuk menulis.

Praktis menulis di lakukan di luar pekerjaan kantor. Di luar jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Selama bekerja kantor sebenarnya bisa juga sedikit menulis, meskipun tidak semaksimal dan seoptimal di luar itu. Waktu sore atau malam, mungkin subuh, inilah waktu untuk melakukannya. Dengan fikiran yang goyah, kecapekan luar biasa, dan sempitnya waktu. Sebuah tantangan memang.

Hal-hal yang aku fikirkan itu berseliweran nakal dan tidak karuan di luar lapisan otak ini. Sedangkan di dalam otakknya sendiri serasa sebuah kepeningan luar biasa. Carut-marut fikiran-fikiran yang tidak terkoordinasi malang melintang di dalamnya. Koordinasi yang tak karuan ini mengakibatkan konsentrasi untuk melakukan pemahaman pada sebuah tema menjadi buram. Tak ada batas-batas jelas. Kepingan-kepingan yang berserakkan. Sulit untuk menangkap, dan mematerialkannya sebagai sebuah tulisan sistematis yang enak untuk di tuliskan. Satu persatu kemudian melayang. Entah mengapa kemudian aku menyerah untuk menuliskannya.

Aku sebenarnya tidak ingin beranjak pada sebuah landasan yang masih buram pada sebuah tema. Banyak hal-hal yang telah orang fikirkan, lakukan, perbuat, dan kemudian beberapa menuliskannya. Menjadi kebenaran-kebenaran awal yang kemudian aku renungkan. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan, sehingga terasa sebuah kebenaran menjadi kejanggalan-kejanggalan yang tidak bisa aku terima. Antara realitas dan ideal berbentrokkan, menjadi bingkai-bingkai amorf. Aku kehilangan pada sebuah bentuk. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyerakkan segalanya. Dan pencetakannya pada sebuah tulisan menjadi buram.     

Belum adanya pendamaian. Tidak adanya pendamaian. Realitas itu begitu keras menghempas. Cabikkan yang sepertinya terus aku renungkan. Hal-hal yang di alami orang-orang di sekeliling, apa yang mereka derita, perbuat, sebuah interpretasi yang begitu kaya untuk di kuak. Hanya pengetahuan dan wawasan semakin lama aku rasakan masih belum mencukupi untuk sampai ke sana. Mungkin inilah, sebuah pendamaian yang belum bisa aku dapatkan saat pengetahuan dan wawasan belum mampu untuk mendampinginya. Memberikan support secara penuh pada realitas di depan tersebut. Inilah mungkin salah satu kelemahanku untuk kemudian menuliskannya.

Sakit yang di alami oleh Om-ku, juga hal-hal penuh beban yang terjadi pada beberapa teman, menjadikan ini sebagai sebuah rekfleksi terus menerus pada perenungan kebenaran tentang hidup. Apa yang aku temui di kantor, di jalanan, hingga di meja-meja makan kehidupan praktisku, menjadikan sebuah layar besar pada tatapan kedepan yg telah mengoyak pemahaman ini. Dan aku tahu itu semua ada, tanpa mungkin aku hindari dan lenyapkan untuk tidak menafsirkannya. Meskipun ini menjadi suatu kesulitan, saat memilah-milahnya seperti lapisan-lapisan bawang merah atau menawarkannya dalam satu kesatuan utuh penafsiran. Ini membuatku mengembara untuk mau mendalami, dan pastilah membutuhkan stamina dan waktu tersendiri. Extra bonus tantangan.    

Inilah kemudian dalam diskusi, dalam bacaan-bacaan, memberikan perspektif yang harus aku susun ulang. Meskipun bukan penyusunan yang harus berulang secara terus menerus kiranya, tanpa akhir. Mengandaikan bahwa akan ada sebuah ketetapan untuk dapat aku tuliskan. Meskipun ini sebuah pengambaran yang tidak begitu kaku. Untuk di tafsirkan ulang kemudian. Aku menyadari ini bukan sebuah kerja praktis yang sekali jadi. Tiap detik, menit hingga tahun akan menjadi landasan jalan di mana pejalan di sana musti memompa semangat untuk terus maju. Ada api yang terus menyala dalam diriku bahwa ini adalah sebuah panggilan. Sebuah pemeliharaan terhadap dunia kiranya.   

Sedikit celoteh.


alan

note : foto di peragakan oleh seorang teman

Blog Entryseorang satpam dalam kejatuhanJun 22, '09 6:39 PM
for everyone
Minggu kemarin, saya baru tahu bahwa teman satpam yang ditugaskan di lantai 2 tempat kami bekerja di keluarkan. Hal itu di karenakan dia mengambil handphone yang bukan miliknya. Ceritanya begini.

Seorang OfficeGirl secara tidak sengaja meninggalkan handphone-nya di toilet kantor. Ini adalah handphone CDMA yang harganya lebih dari 1 juta. Kalut dan menanggis, officegirl ini mencari handphonenya. Hanya sayang tidak ketemu. Ternyata seorang office boy lain yang membersihkan toilet menemukannya. (perlu di ketahui, di dalam gedung tempat kami bekerja di bagi menjadi 2 pekerja pembersih. Yaitu office boy yang khusus mengerjakan di dalam ruang kantor, dan yang berada di luar kantor. Yang berada di luar kantor biasanya mengerjakan ruang2 khusus seperti toilet, lorong2 gedung, tangga penyelamat, dll. Jadi antara office boy dalam dan luar, mempunyai sekat pergaulan sendiri).

Handphone yang di dapatkan ini kemudian di berikan kepada satpam temanku tadi. Agar segera di berikan kepada yang berpunya. Hanya kenapa handphone ini tidak segera di umumkan, sehingga segera ketahuan siapa pemiliknya. Tidak sulit, bahwa kekalutan officegirl yang mencari-cari handphone tersebut sudah menjadi tanda bahwa dialah yang kehilangan. Kejadian hilangnya handphone ini terjadi saat siang, hingga malam handphone ini tidak juga di berikan.     

Kejadian ini terbongkar setelah officeboy penemu itu mengungkapkan bahwa dia telah menemukannya, dan memberikan ke pada satpam tersebut. Hal itu di sampaikan kepada pihak GA (General Affair), dan kemudian melakukan pemanggilan kepada satpam. Lebih di kuatkannya lagi dengan bukti CCTV pada saat serah terima handphone dari office boy dengan satpam ini. Sesuai informasi, handphone ini di serahkan sekitar jam 8.30 malam hari itu juga. Setelah si satpam mengakuinya, kemudian menyerahkan handphone tersebut.

Kejadian ini terus menjadi gangguan dalam fikiran saya. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Secara fikiran normal, begitu bodohnya menyembunyikan handphone yang di serahkan dari orang lain. Sebab orang tersebut bisa membuka hal ini ke orang lainnya juga. Saya tidak ingin berfikir untuk mencari sebuah alasan yang bisa di ungkapkan oleh satpam tsb dalam kejadian ini. Misal, kepepet butuh uang, sebagai guyonan pada teman sendiri yang officegirl itu, atau kelupaan. Kejadiannya sungguh di luar logika sendiri.

Apakah setan telah begitu merasuk dalam fikiran seseorang. Sehingga dia di butakan atas apa yang dia lakukan. Yang berakibat fatal, bukan hanya terhadap orang lain, terutama pasti terhadap dirinya sendiri nanti. Contoh di sini adalah di keluarkan dari pekerjaannya. Sedangkan dia harus menafkahi anak istrinya yang berada di kampung. Menanggung rasa malu, dan hilangnya kepercayaan orang lain terhadap dirinya. Kejatuhannya begitu dalam. Dia harus mampu untuk menanggung semuanya.

Ini bisa terjadi pada setiap orang dengan kejatuhan masing-masing. Saya menuliskannya dengan rasa keprihatinan yang teramat sangat. Untuk selalu mengingatkan bahwa setiap pribadi musti berhati-hati. Terkadang pencerapan kita terhadap realitas dan wawasan pengetahuan begitu terbatas. Sehingga kebenaran menjadi buram saat godaan itu menerpa. Kekacauan bukan berada pada hilangnya tantanan aturan dalam bentuk etika dan moralitas kiranya. Tetapi kesadaran setiap pribadi dalam berjaga untuk selalu waspada terhadap fikiran-fikiran liar yang menyimpang tersebut.

Kekacauan melanda negeri dan bangsa ini layaknya seperti badai keras menerpa. Kompleksitas yang begitu sulit untuk di cerna. Tantangan manusia untuk mampu bertahan, dan keluar dari badai ini. Mendapatkan pemahaman baru kepada arah hidup sebenarnya.


alan


Blog Entrytetap dan tidak berubahJun 19, '09 7:07 PM
for everyone
Aku tidak melihat perubahan di negeri ini. Kere tetap kere. Yang kaya, "klejingan" tingkahnya. Oh bangsaku...... !

alan

Note : capture foto diambil dari koran Kompas, 13 Juni 2009, mobil mewah yang akan di perdagangkan di pasar Indonesia.

Blog Entrytak tahu harus kemanaJun 19, '09 6:52 PM
for everyone
Apa sebenarnya makna penderitaan manusia ? Apakah saat kenyamanan seseorang terganggu dapat di katakan sebagai sebuah penderitaan ? Kita tarik lebih dasar lagi, yang mengganggu fungsi-fungsi dasar manusia, baik secara indera, pikiran, rasa, tingkah laku, dll. Semisal penganiayaan sehingga menyebabkan salah satu fungsi inderanya terganggu. Kecelakaan, perkosaan, sakit, pelecehan, penindasan, dll.

Apabila kita telusuri lagi, ternyata penderitaan manusia bukan "hanya" masuk ke dalam wilayah pribadi, tetapi masuk juga ke dalam wilayah publik. Sebagai makhluk sosial, interaksi manusia dengan wilayah-wilayah publik ini tidak bisa di lepaskan begitu saja. Konteks ruang mewadahi keberadaan manusia. Keberadaan yang menjadi keniscayaan bagi manusia untuk tinggal dan mewujud di dalamnya. Penderitaan kemudian menjadi sebuah perabot dalam rumah manusia. Tetapi perabot bisa kita buang sewaktu-waktu. Hanya mungkin ini perabot dimana akan terus menempel dalam rumah. Rumah mengandaikan suatu perabot. Adakah sebuah usaha dapat mengosongkan rumah dari perabot. Kemudian rumah hanyalah tinggal rumah kosong. Dan jiwa-jiwa manusia akan terus nyaman tinggal di dalamnya.   

Ini mungkin lebih tampak runyam apabila penderitaan, juga di hubungkan dengan titian waktu. Waktu seakan menjadi sebuah tali yang telah di genggam erat manusia. Terus di ulur dalam menjalani hidupnya. Dari awal hingga sekarang, kemudian tetap terbawa menjalani jalan-jalan hidupnya ke depan. Itulah keberadaan manusia. Kemudian yang menjadi pertanyaan, apakah itu "awal", "sekarang" dan "ke depan" pada makna penderitaan manusia ? Terkadang begitu membingungkan.

Apakah "awal" dapat di maksudkan saat kelahiran manusia tersebut ? Seorang perempuan mengandung selama sembilan bulan, saat akhirnya melahirkan seorang bayi, waktu  penderitaan kemudian di hitung dari sini ? Dalam konteks kekinian "sekarang", seperti apa yang telah saya tuliskan di atas, penderitaan kemudian diidentikan dengan keberadaan manusia ? Pada perspektif "ke depan", tiada berakhirkah hal ini ? Oh begitu malangnya manusia.     

Begitu banyak pandangan mengenai penderitaan. Apakah kemudian berpengaruh pada penderitaan itu sendiri ? Ataukah berpengaruh pada persepsi manusia terhadap hal tersebut ? Apakah yang bisa di perbuat oleh manusia ? Banyak pertanyaan. Jawaban akan tersusun satu demi satu. Sedikit demi sedikit. Semoga.


alan

note : capture foto diambil dari koran Kompas, 13 Juni 2009.



Blog EntryfantasmoJun 16, '09 6:58 PM
for everyone
Kolaborasi yang begitu memikat malam itu. Perpaduan antara para seniman Jepang dan Indonesia, di racik sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah tontonan seni yang sungguh begitu mengugah intepretasi penafsiran bagi pemandangnya. "Garibaba's Strange World", menjadi judul pentas malam itu jam 8, di TIM, 12 Juni 2009.

Pada awalnya saya tidak tahu tema yang akan di usung dari pentas malam itu. Yang menarik bagi saya sendiri adalah adanya kolaborasi seni antara seniman Jepang dan Indonesia. Dua negeri di satukan dalam satu panggung bersama, melebur dalam penciptaan karya. Pentas yang rasanya jarang kita jumpai di pementasan-pementasan seni negeri ini. Unsur budaya asal yang di bawa oleh tiap pemain akan menjadi kekayaan tersendiri. Di samping keunggulan masing-masing individu di dalamnya. Baik pembawaannya untuk menyajikan keunggulan pada olah seni teater, musik dan tari. Kiranya, eksplorasi pada tiap-tiap elemen tersebut akan menjadi panduan dalam kesadaran penonton pada keindahan, wawasan, pemaknaan spekulatif, dan rasa yang ingin di capai. Sehingga pentas dapat menjadi peleburan tiap-tiap elemen tsb menjadi satu karya utuh. Fragmentasi-fragmentasi diutuhkan di dalam pentas panggung yang terjadi dalam pandangan penonton. Dan saya salah satu penonton itu.   

Buku pengantar yang di berikan pada saat memasuki gedung Graha Bakti Budaya-TIM menyiratkan keunikan dari cover yang di tampilkan. Potongan-potongan tubuh, dalam mimik-mimik aneh di tempatkan terbalik terhadap muka buku (lihat foto di samping). Di padukannya antara wajah manusia yang bermimik melonggo dengan wajah makhluk-makhluk manusia jejadian. Wajah makhluk jejadian yang di ekspresikan menertawakan si wajah manusia melonggo dari arah belakang. Seakan-akan semua makhluk dalam cover buku ini memenuhi suatu ruang imaginer tersekat. Saling berkejaran, mengkontraskan mimik mereka masing-masing, dalam posisi-posisi tubuh di bebaskan. Visualisasi ini sepertinya memberikan banyak pemaknaan pada tema pentas yang akan di suguhkan. Sebuah dunia dalam keterbalikkan imaginer. Manusia dan makhluk-makhluk ganjil menjadi satu. Saling berkejaran, memperlihatkan eksistensi mereka, menyatukan menjadi sebuah dunia imaginer
tersendiri.

Di dalam pengantar di ungkapkan bahwa sutradara Jepang dari grup teater Tarahumara, Hiroshi Koike, terinspirasi untuk menciptakan karya "Garibaba's Strange World" ini dari seorang novelis dan pastor Irlandia yang bernama Jonathan Swift. Swift yang katanya begitu kontroversial ini, dalam karya-karyanya menciptakan sebuah dunia yang serba terbalik. Dunia yang penuh kejanggalan, aneh, dan berlawanan dengan realitas kehidupan. Dari sinilah pentas ini diciptakan. Inspirasi dari dunia yang aneh dan jangggal ini, di wujudkan dalam kesatuan olah teatrikal, musik dan tari dalam satu panggung.

Cerita ini bermula dari tokoh pelaut Jonathan Swift yang terdampar, akibat kapalnya pecah terhantam badai. (pencerita di dalam pementasan ini adalah dalang Slamet Gundono, yang terkenal dengan wayang suketnya). Dia terdampar dan di temukan oleh makhluk2 ganjil dari negeri Mozo-mozo. Makhluk2 aneh yang bermuka serupa para badut. Pakaian mereka di balut oleh kain biru menyala, terkadang rambut di lepas terurai serupa riap-riap para raksasa. Bergerak-gerak kelewat over menyerupai monyet. Manusia Swift yang terdampar ini menjalani pemeriksaan oleh Raja dan Ratu Mozo-mozo, yang akhirnya memerintahkan untuk membunuh Swift apabila dalam 10 hari dia tidak dapat berbicara bahasa Mozo-mozo. Kemampuan berbahasa Mozo-mozo di harapkan bahwa Swift dapat menceritakan mengenai dirinya dan apa sebenarnya dunia manusia. Di sini nama Swift kemudian di ganti menjadi Garibaba. Panggilan yang di kenakan orang Mozo-mozo terhadapnya.                   

Ternyata Garibaba dalam 10 hari sanggup untuk berbahasa Mozo-mozo, malah dengan kebisaannya ini, dia sanggup menawan hati Raja dan Ratu Mozo-mozo. Akibatnya, pekerjaan negara menjadi terlalaikan. Negeri mengalami kemunduran, dan di timpa kelaparan yang melanda seluruh negeri. Atas saran dari Garibaba, bayi-bayi di negeri Mozo-mozo dapat di jadikan makanan rakyat yang sedang kelaparan. Tampaknya Raja sulit memutuskan kebijakkan atas saran Garibaba ini. Setelah di setujui saran itu, negeri kembali normal seperti sediakala.

Cerita terus bergulir. Setelah bertahun-tahun tinggal di Mozo-mozo, Jonathan Swift atau Garibaba di kisahkan gandrung, "kesengsem" dengan 2 gadis muda belia. Kedua gadis ini, saat pertama kali Swift terdampar di negeri Mozo-mozo masih begitu kecil, dan sekarang tumbuh menjadi gadis remaja yang sanggup membuncahkan birahi Swift. Pergolakkan diri terjadi, hingga kemudian pentas di tutup dengan penceritaan dari Slamet Gudono. Pementasan berakhir. 

Meskipun cerita di tutup dengan pola mengambang, tidak ada kejelasan akhir dari para tokoh2nya, pementasan ini saya anggap sukses berat. Dan meskipun saya masih agak kecewa dengan skill/kemampuan para pemain dalam olah tari yang tidak merata sehingga terkesan tidak kompak, tetapi koreografi dalam penciptakan gerak2 unik begitu memikat.

Kekuatan yang saya lihat begitu dominan dari para pemainnya adalah dalam olah suara. Tiap kata dan kalimat dalam dialog yang mereka suarakan begitu bulat, jelas dan keras. Tiap ocehan dan lagu yang mereka bawakan menjadi begitu memaknai saat bulat-bulat dapat kami mengerti. Jelas, keras, mantap, lantang di telinga kami. Hanya mungkin pemain dari Jepang, agak sedikit terpeleset saat membawakan bahasa Indonesia. Beberapa bagian tidak saya mengerti. Sepertinya masih kurang lama tinggal. Pelajaran bahasanya perlu di intensifkan lagi....hex3.

Dua kekuatan lagi dalam pementasan ini adalah tata cahaya atau lampu dan arransemen musik penggiringnya. Pencahayaan yang begitu indah memikat. Memberikan nuansa selaras dengan naik turun adegan yang ingin di dukungnya. Saat gelap terang, berpadu dengan kontras warna yang di hasilkannya memberikan pengkondisian pada suasana hati bagi para pemandangnya. Lampu-lampu yang terpasang pada pilar-pilar kayu di atas panggung, dimana pilar-pilar tersebut dapat di gerakkan atas bawah, memberikan perwujudan nuansa modern yang terang dan menyilaukan.

Musik yang berpadu dalam nuansa etnik dan modern merupakan satu kelebihan dalam pementasan malam itu. Kesatuan antara modernitas Jepang dan keunikan tradisional Indonesia yang saling melekat, berkelindan, menohok dalam kelowongan ruang2 pendengaran, begitu memikat. Saya masih bisa merasakan aliran Jazz yang kental. Gebukan kendang yang keras, suara suling, hingga mix-mix musik industrial yang begitu berdistorsi. Tiap-tiap unsur di dalamnya saling menerkam, berpagutan, memberikan keselarasan yang sarat pemaknaan. Salut untuk pengaransemennya.

Tak terasa, 2 jam terlewatkan. Malam memang semakin larut, hanya manusia-manusia di sekitar masih begitu ramai. Halaman TIM begitu sesak oleh mobil, sepeda motor dan manusia. Kami bergegas dari keterlarutan imaginer Garibaba ke alam real sehari-hari kota Jakarta. Pemaknaan yang begitu kaya.


alan              

note :
1. Foto paling atas diambil dari koran Kompas tanggal 9 Juni 2009. Diambil saat pementasan di Yogyakarta.
2. Cover buku pengantar Garibaba's Strange World
3. Tiket masuk

Blog Entrysore di jalan ke tanah lot Jun 16, '09 6:04 AM
for everyone
Sore yang cerah pada tanggal 2 Mei 2009 kemarin, pas di jalan menuju ke Tanah Lot Bali, suasananya agak sedikit ternodai (cukup berkerenyit dengan kata terakhir ini :) ) . Mobil Xenia yang kami tumpangi terjerebab di saluran air pinggir jalan yang masih kering. Mobil yang kami tumpangi menyerempet sepeda motor yang melaju dari arah berlawanan, sehingga kendali oleh sopir tidak bisa di kuasai hingga nyemplung dengan sukses ke saluran air itu.

Peristiwanya begitu cepat. Saya tidak sempat memandang ke depan, saat serempetan itu terjadi. Hanya suara benturan serempetan yang tidak begitu keras menyelinap di kuping. Mobil terlempar ke kiri karena rem tidak bisa di injak. Melaju kentjang masuk ke saluran.

Saya seorang diri berada di baris ke dua. Ada seorang teman dan sopir yang berada di depan.Total tiga orang yang meluncur indah ke dalam saluran. Saat sudah terperosok si sopir yang bernama pak Made sempat meluncurkan tanya, "Gimana tidak apa-apa ?". Saya nyengir. Selangkangan agak sedikit "njarem", dan tangan kiri terkena benturan. Nyeri.

Kaca samping retak, dan pintu belakang kiri tidak bisa di buka. Beringsut "krengkangan" saya buka pintu kanan yang kini berada di atas tubuh saya. Kami keluar satu persatu, kemudian barang-barang saya tarik keluar. Kamera digital teman yang berada di jok belakang terlepar, tetapi untungnya tidak rusak. Lensa-lensa yang berada dalam tas, tidak mengalami kerusakan sama sekali.

Saya cukup shock. Beberapa menit menenangkan diri di pinggir jalan pas di depan toko kelontong yang pemiliknya menyilakan kami untuk beristirahat. Orang-orang kampung yang mendengar benturan di jalan, keluar dari kediaman mereka. Berkumpul melihat kami yang mukanya pucat, si penderita yang layak di jadikan tontonan.

Keinginan untuk berfoto ria di Tanah Lot saat sunset hilang entah kemana. Hanya turut bersyukur, badan tidak mengalami masalah serius. Saat malam tiba mobil yang terjerebab itu berhasil di keluarkan memakai derek. Kami pulang ke Denpasar memakai mobil teman yang sengaja menjemput di TKP.

Malam di hotel saya masih menyempatkan untuk berenang. Selangkangan masih sakit. Beruntung tidak kena yang sebelahnya.... :) :)

alan    

Blog Entrysi ikal mayangJun 15, '09 12:47 AM
for everyone
Refreshing dulu dengan nyanyian sang musisi, sang traubador Indonesia Leo Kristi. Ini salah satu musisi favorit. Hiduplah Indonesia, bangkitlah Indonesiaku..... 

========================
Siti Komariah ikal mayang

(Leo Kristi)

Engkau membaca ayat-ayat suci
Dan menghitung setiap decik pundi-pundi
Aku teringat akan Ibu di sana
Yang tak pernah membaca apa-apa

Hanya menghitung setiap hati manusia
Hanya menghitung setiap tangis manusia
Hanya menghitung setiap jerit manusia

Dalam temaram sinar lembayung senja
Kau seakan suatu monumen Kartini
Dengan seribu gemerlap sinar permata
Di bibir merah bergincu tebal

Siti Komariah selamat tinggal
Siti Komariah selamat tinggal
Siti Komariah selamat tinggal

Siti Komariah di sini
Ibu rasa jauh sekali
Hari lewat hari
Jangan nurani hilang di diri
                                     2x

Siti Komariah ikal mayang
Si ikal-ikal mayang
                                     2X

lay....lay....lay....
hole....hole....hole....ooooo
lay....lay....lay...

Siti Komariah (dimatamu ?)
Engkau keras dan menarik
Hanya di sini engkau, tanda Ibu jelas samar
Jangan biarkan bulan kita bundar

Siti Komariah ikal mayang
Si ikal-ikal mayang



alan
note : foto diambil dari cover Nyanyian Cinta, Leo Kristi. Koleksi pribadiku donk... :)

Blog Entrysemua menembangJun 10, '09 5:40 PM
for everyone
Diantara seniman-seniman penembang geguritan. Menyempil, menikmati sembari lesehan,  pada tembang-tembang yang mereka lagukan. Atmosfer yang diam, mulai bergerak. Mengalir, dan nuansa mistis menyelinap. Masuk dari udara yang mengambang terbang masuk ke lubang telinga kami. Bersentuhan diantara bulu-bulu halus, antara kulit ari dan gendang dalam. Tegakkan dari kesunyian dulu, kesepian, tak tertanggapi, kemudian tergugah pada ketidak beradaan kami yang semakin hilang. Mistis yang tidak terungkap.

Mulut-mulut sebagai pencipta yang terus bertembang. Penembang bukan lagi seorang yang cuma menembang. Dia telah menciptakan, karya terbaru dalam desah, emosi pelaguan, naik turun tembang, dan penciptaan nuansa-nuansa unik bagi para pendengarnya. Bukankah saat si pendengar ikut terhanyut, berarti dia menerima penciptaan itu ?  Pemaknaan yang di hasilkan menjadikan dia memperoleh keberbedaan dalam penghayatan diri dan keberadaan di sekitarnya ? Itulah penciptaan yang terjadi. Memberikan pemaknaan baru pada liyan yang diterima oleh manusia.

Semua berkumpul dalam lingkaran kecil. Kesatuan antar pribadi terjalin dalam lingkaran itu.
Ruang memadat, seakan menjadi penuh, antara manusia, tembang-tembang yang mengalir, dan keberadaan pemaknaan manusia-manusia di sana. Udara penuh dengan alunan yang berkeriap. Terasa aliran dingin mengambang, berputar di seantero ruangan. Udara berangsur menghangat di tengah hari yang panas itu. Terlibas oleh aliran dingin itu yang semakin memuncak dengan tembang-tembang yang dialunkan.

Tanpa sebuah keinginan pada pencapaian, mereka tertekuk untuk melantunkan tembang-tembang seirama kata hati. Seakan hidup bergulir menemukan bentuknya saat tembang-tembang di lagukan. Jiwa menghangat, dalam penyatuan itu. Jiwa bertumbuh menjadi kepenuhan untuk sebuah karya pada penciptaan. Antara makna kerja, karya, dan pencapaian pada pemujaan yang illahi terpapar. Keterbukaan yang menyiratkan tiada lagi adanya sebuah dualisme yang terpecah. Keterpecahan antara makna manusia dan illahi menjadi hilang. Pembedaan yang tidak mewujud lagi. Yang berada kini adalah kesatuan manusia yang memuncak pada karya keillahian. Manusia memuncak pada pencapaian ini.

Warna-warna kontras berselang-seling. warna-warna yang menyiratkan hakekat manusia dalam mengungkapkan dirinya. Seorang ibu sempat saya foto dari belakang. Tenang dalam keterdiamannya.

Siang itu kami di RRI Singaraja. Perjalanan yang kami tempuh 3 jam penuh, berangkat dari Denpasar mulai subuh terasa tak sia-sia. Lelah tapi memberikan pengalaman menarik, yang begitu jarang kami dapatkan di kesempatan yang lain. Alam yang begitu asri di kiri-kanan jalan saat perjalanan, memberikan kesejukan tersendiri pada fikiran yang telah lelah ngendon di otak. Mungkin Jakarta memberikan racun yang berupa kelelahan pada otak-otak manusia di dalamnya. Mungkin inilah misi ke Singaraja untuk mengurangi kadar racun itu.

Mewawancara dan memfoto menjadi bukan lagi keutamaan kami. Saat hadir, bertatapan, dan masuk kedalamnya, itulah keutamaan perjalanan di dapatkan. Banyak kepenuhan dalam diri kami. Ngobrol, saling tertawa dan bercanda, adalah bunga-bunga pertemuan yang begitu mengasyikkan. Perjalanan kami masih jauh. Mengalami, masuk ke dalamnya, itulah perjalanan itu.


alan

note : foto diambil saat acara menembang geguritan di RRI Singaraja, 02 Mei 2009, 11.00WITA

Blog Entrypembacaan Veda & Alkitab-InjilJun 9, '09 4:52 AM
for everyone
Membaca Veda, Pancama Veda atau Bhagavad Gita seakan membuka wawasan mengenai pemaknaan dari pembacaan terhadap Alkitab. Bukan mengaburkan warta keillahian yang terdapat dalam Alkitab. Lebih dari itu, memberikan perspektif yang lebih kuat terhadap wawasan keillahian ini. Dihubungkan juga dengan manusia sebagai realitas yang tidak pernah bisa terlepas dari pemaknaan keillahian ini.

Beberapa memang tampaknya saling berkontradiksi. Seperti persepsi mengenai kebaikan dan kejahatan dalam konteks religiositas Alkitab yang di tampilkan begitu kentara. Dalam perspektif Hindu, hal ini menjadi begitu buram. Batasnya sudah labur. Tidak di kenali kembali mana batas hitam atau batas putih.

Linearitas roda hidup manusia yang bergulir kedepan, terus tanpa akhir hingga kematian, kemudian kebangkitannya di Akhir Zaman, mendapat pemaknaan berbeda apabila di lihat dalam pemaknaan Veda. Proses reinkarnasi, bergulir dalam lingkaran karma yang tiada berakhir hingga pencapaian kesempurnaan dari keterlepasan belenggu karma.      

Hakekat manusia antara tubuh, jiwa, dan roh memberikan pemahaman yang teramat mirip dengan hakekat Brahman dan Atman dalam manusia Hindu. Manusia di lihat bukan saja dalam individualitas kediriannya, tetapi merangkum semua aspek alam dalam lingkup makrokosmos. Bukan sebuah panteisme, dimana melihat aliran2 energi pada materi dunia. Tetapi kesatuan antara keillahian dan manusia yang terintegrasi dalam keselarasan tindakan praktis hidup manusia. Gambaran manusia sebagai Citra Allah, menjadi peleburan pribadi Allah ke dalam manusia. Ini begitu jelas pada kehadiran Jesus dlm penyelamatan manusia dari kejatuhan dalam kedosaan. 

Trisuci dalam Trinitas pada Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang merupakan hakekat kualitas hubungan manusia dengan Allah, menjadi sarana pewahyuan Allah dalam hidup manusia. Pewartaan dalam dunia mengenai kasih Allah yang hidup sepanjang masa. Dalam Veda menjadi penyertaan Wishnu kepada Arjuna, dan di teruskan kepada penyertaan avatar (penitisan Wishnu) kepada manusia sepanjang zaman.  

Nilai kerja di ungkapkan dalam Bhagavad Gita, menjadi penghubung dalam pemurnian tindakan manusia yang mengarahkan dirinya kepada pemeliharaan dunia dan penyatuan kepada keillahian. Nilai kerja dalam Injil di ungkapkan dalam kesatuan antara nilai-nilai individualitas yang tidak terlepas dari nilai sosial-sosial. Manusia tidak bisa di lepaskan dari keberadaan manusia dan alam sekitarnya.

Mungkin tulisan ini bahasanya masih begitu kaku. Tetapi tidak mengapa. Ini sebagai sebuah pengantar. Akan di tuliskan lagi tema-tema yang berkaitan untuk ke depannya. Dengan tata bahasa yang lebih halus tentunya :)

alan

note : foto di ambil di kamar Buncit, 31 Mei 2009, jam 19.00WIB

Blog Entryberebut untuk ilusi kenyamanan... Jun 9, '09 2:13 AM
for everyone
Berat memang hidup di Jakarta. Layanan publik dipergunakan dengan berebut, karena antara fasilitas dan pemakainya tidak seimbang baik jumlah maupun kualitas pelayanannya. Di samping perencanaan yang terkadang di ragukan, apakah memang sudah pada kesimpulan optimal untuk akhirnya nanti di implementasikan. Ini yang terjadi pada layanan Transportasi terutama busway.

Hari Jumat sore, 5 Juni 2009, tepat pada saat bubarnya kantor di sekitaran Kuningan dan Thamrin-Sudirman Jakarta, saya melewatkan utk menikmati layanan Busway. Mulai dari shelter busway Kuningan Madya, menuju ke utara melewati halte Halimun sampai di shelter Dukuh Atas. Shelter Dukuh Atas yang luasnya melebihi halte-halte standard lain, penuh sesak. Berjubel penuh antrian. Tidak bisa meluber keluar dari halte, hanya kemudian meluber ke arah jembatan yang menuju ke halte Dukuh Atas Thamrin-Sudirman. Layaknya para pesakitan yang menunggu jemputannya datang, berjubel penumpang tampak tidak sabar. Tampang-tampang kusut, sehabis seharian bekerja, kemudian musti beranjak utk pulang ke rumah masing-masing. Tapi sayang, bus yang mereka tunggu tak kunjung muncul.

Bus yang saya tumpangi dari Kuningan, langsung di serbu. Seperti orang-orang yang rebutan hadiah saat peringatan 17 Agustus-an. Andai saja peristiwa ini tidak di kendalikan, memungkinkan bisa terjadi penumpang jatuh yang berakibat luka. Manusia yang saling berebut masuk, saking banyaknya, tidak memperdulikan keselamatan sebelahnya. Begitu miris.

Kapan kita bisa menikmati layanan transportasi umum yang lebih nyaman manusiawi, tepat waktu, informasi lengkap yang sangat berguna bagi para pengguna baru seperti peta atau layanan penujuk arah. Bukan berarti bahwa layanan murah, tidak identik dengan layanan seenaknya. Masih panjang, butuh waktu untuk itu. Bukan berarti tidak mungkin.

alan        

Blog Entryteknologi untuk rakyat ? Jun 8, '09 10:19 PM
for everyone
Teknologi kerakyatan apa yang bisa di manfaatkan untuk masyarakat kita. Rakyat Indonesia di daerah-daerah perkotaan yang makin lama makin tergerogoti kesehatan jiwa dan badannya. Tercemar oleh pencemar yang sungguh jahat. Menjauhkan dari pola hidup sehat yang seharusnya menjadi penopang pada kehidupan yang lebih baik.

Berikut adalah tujuan pemanfaatan teknologi yang kiranya berguna bagi masyarakat. (yang bisa saya fikirkan) :

1. Teknologi untuk mengurangi pencemaran udara akibat polusi kendaraan bermotor. Dengan di gunakannya motor-motor 4 tak, ataupun di pemakaian kereta listrik dan trasportasi massal yang makin tersebar masuk ke pelosok area urban. Minimal bisa mengurangi pencemaran yang makin lama makin mencekik tenggorokan dan paru-paru. Tak lupa, "jangan" menggusur daerah2 hijau kemudian di jadikan ladang tarik-tarikan kaum kapital. Daerah hijau adalah musti di samping telah melakukan pemakaian teknologi pengurang pencemaran udara.

2. Penggunaan air bersih yang bebas kandungan bahan kimia dan bakteri, kuman, penyebab sakit pademi musti di prioritaskan. Ini di butuhkan untuk daerah2 di sekitar area Industri, sekitar pantai atau sungai yang telah tercemar, ataupun di cekungan yang sering mengalami banjir musiman. Di butuhkan teknologi untuk mendapatkan, memurnikan air untuk sarana kebutuhan sehari-hari.

3. Perumahan rakyat massal yang murah, kuat, tertata, dan sehat. Teknologi yang musti mengikuti perkembangan dan perencanaan  dari pola pertumbuhan rakyat. Jangan sampai teknologi malah meminggirkan rakyat menjadi sub-sub marginal di negerinya sendiri. Perkembangan ini musti diadopsi oleh teknologi untuk mendapatkan solusi secara optimal. Untuk mendapatkan hasil yang bermutu, sehat, dengan harga terjangkau. Menempatkan manusia menjadi subjek di dalam lingkungannya sendiri.    

4. Teknologi untuk pendaur ulang sampah. Yang dapat di lakukan secara efektif, cepat dan tidak menimbulkan polusi tambahan saat prosesnya.

5. Penataan aliran sungai dalam kota yang membutuhkan perencanaan yang matang, di bantu oleh ketersediaan teknologi madya. Baik saat pembuatan aliran sungai itu sendiri mulai dari hulu hingga hilir. Pembuatan bendungan-bendungan sebagai pengontrol debit air. Hingga kebutuhan pada alat-alat yang di pergunakan untuk pembersihan aliran sungai dari sampah dan kotoran lainnya.    

Itu mungkin.

Tidak dibantah bahwa teknologi terkadang menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi dia dapat di pergunakan sebagai alat eksploitasi terhadap kelangsungan kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar. Melakukan pengrusakkan dengan kesadaran tersendiri dari para penggunanya. Di satu sisi juga teknologi dapat di maksimalkan sebagai sarana untuk menghadirkan masyarakat dan lingkungan yang lebih berkualitas. Menciptakan ketergantungan yang memberikan nilai tambah tersendiri bagi kehidupan. Seperti contoh yang saya list diatas tersebut.

Hanya mampukah manusia tetap bergerak untuk terus memikirkan keberlangsungan hidup dirinya dan lingkungan sekitarnya menuju pada kualitas yang lebih baik ? Dia mungkin lebih tergoda kepada perolehan materi secara cepat dengan kuantitas yang mengiurkan. Lebih tergoda untuk perolehan kekuasaan yang lebih dan lebih sebagai pengakuan terhadap keegoannya. Dan aspek-aspek keyakinan terhadap kebenaran yang dirasakannya memang benar bagi dirinya. Tetapi tidak di pertanyakan balik secara lebih kritis, apakah memang ini adalah jalan yang terbaik bagi yang lain ?

Bangsa ini harus terus dan terus belajar. Meskipun bila kita lihat sekarang, makin parah kerusakan yang terjadi, baik dalam diri kemanusiaannya maupun lingkungan hidupnya. Dan hal ini akan terus terjadi kalo kita tidak secara kritis mempertanyakan kembali argument kebenaran yang secara akut telah di anut. Tak terkecuali di sini adalah kebenaran keyakinan pada penggunaan teknologi di negara ini. Apakah memang sudah di manfaatkan sebagai sarana pemeliharaan terhadap manusia dan lingkungannya ? Sebuah refleksi tersendiri.

alan

Note : foto dan artikel tambahan di samping kiri atas diambil dari koran Kompas, 08 Juni 2009.

Blog Entryasyik cari buku bekasJun 8, '09 2:20 AM
for everyone
Salah satu hobi yang paling mengasyikkan adalah mencari buku-buku bekas. Buku-buku baru sekarang teramat mahal. Meskipun dapat terbeli, jumlahnya juga tidak akan banyak untuk bisa memenuhi keinginan yang membabi-buta :) . Bila dapat buku yang kita caripun, banyak tema-tema yang tidak akan bisa di dapatkan. Seperti jurnal2 lama, tidak akan mungkin di dapatkan di toko2 buku sekarang. Tetapi lebih asyiknya lagi adalah pekerjaan tangan membongkar-bongkar tumpukan2 buku yang sudah menggunung. Seperti mencari harta di padang belukar yang sulit. Begitu membahagiakan apabila harta tersebut tiba-tiba muncul. Jreng....!!!

Di samping, saya cuplikan foto dari koran Kompas hari ini, 08 Juni 2009. Seorang anak sedang memilah-milah buku bekas di Taman Mini. Kegiatan yang sungguh mengasyikkan. :)


alan 

Blog Entrytulisan-tulisan bus kotaMay 30, '09 3:29 AM
for everyone

Ada ketertarikan saat memandang tulisan-tulisan dalam bus kota. Tidak habis-habisnya, saat ratusan ribuan kali bus-bus ini telah kita tumpangi, dan tak sadar memandang tulisan2 itu. Keisengan awal para penulisanya menggoreskan apa yang ada di dalam otak mereka, di salurkan dalam otot motorik, kemudian bergeraklah tangan yang memegang bolpen, spidol, atau apapun yang bisa menggores dan memberikan bercak pada dinding.

Semua tampak cuek, semua sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Tak selintas fikiran utk mau memandang, memikirkan, atau sampai memahami makna tulisan itu. Beberapa mungkin cekikikan, ternyata mereka tahu temannya yang melakukan itu. Atau berkesan lucu, menyiratkan kelucuan yang porno, sedikit mungkin beraura keras dan berkonotasi hujatan, yang membuat mereka sedikit senyum, tertawa, muka kecut hingga berkerut. Memandang mereka untuk sekedar tahu, dan sudahlah singkirkan setelah itu.   

Campuran antara huruf besar kecil, saling menyilang, tegak hingga horisontal kacau. Huruf-huruf latin yang di modifikasi dengan beberapa aksesories coretan lagi. Coretan terkadang tipis, tak tampak oleh mata. Terkadang juga sangat tebal, berkuasa atas space yang ada. Tapi tak peduli bahwa tonjolah di dinding bus menyulitkan untuk menulis secara mengenakkan. Huruf-huruf menjadi tidak sempurna akibat tonjolan-tonjolan ini. Hingga karat-karat besi pada dinding bus saling berlomba. Ingin unjuk gigi, siapa yang mampu berada di atas dari tampilan yang lain.

Sesekali pak kernet mondar-mandir di dalam bus. Tubuhnya menjadi penghalang sementara bagi para penikmat coretan-coretan ini. Ketukan-ketukan koin uang pada kaca, memecah konsentrasi. Teriakkannya menjadi semburat diantara kenikmatan penonton coretan. Rabaannya pada dinding yang kasar, membuat coretan-coretan menjadi makin labur. Jadi antara tubuh, angin, hawa cuaca, karat, benturan antar benda keras, membuat labur saja. Tenggelam diantara manusia dan materi lainnya.

Apa yang bisa aku pandang pada coretan ini. Apakah manusia mempunyai sebuah kehendak untuk mengungkapkan apa yang benar2 menjadi keinginannya ? Saat coretan-coretan menjadi batas yang buram di antara keinginan, kehendak dan keburaman diantara keduanya. Aku masih memikirkannya.       

alan


Blog Entrysetelah membaca VedaMay 30, '09 3:20 AM
for everyone

semoga di limpahi berkah
kepada siapa saja yang menginginkannya
semoga di limpahi berkah
kepada siapa saja yang tidak menginginkannya
Dan semoga di limpahi berkah
kepada siapa saja, sebagai ketiadaan orang menginginkannya

Hidup mengandaikan sebuah irama
Tapi mungkin juga tidak
tidak ada irama di dalamnya, dan ada irama juga mengalir sebagai kesempurnaan di dalamnya.
adakah itu menjadi bagian, ataukah tidak ?

Saat pagi datang, satu persatu orang di persatukan
dipersatukan oleh aliran hidup
dan saat itu manusia hadir
karena aliran hidup itu sendiri

Kemudian, berarak-arak manusia melintasi jalan
adakah jalan yang musti mereka lewati ?
saat hidup bukan lagi di andaikan sebuah jalan.
atau bisa juga di andaikan sebagai jalan
saat mereka bebas untuk terbang kemanapun

Adakah sebuah perjuangan ?
Adakah denting pedang ?
Adakah derap kaki menembus ?
Adakah gesek hisapan nafas ?
Adakah lengking orgasme ?
Adakah pekik kesakitan ?
Adakah klik kamera tersentak ?
Adakah kemurnian dari kemurnian ?

Saat itu diriku memandang ke atas
Ada kehidupan mungkin di sana, sebagai ungkapan keterbatasanku
Aku ingin berjalan selangkah demi selangkah
meskipun pelan, aku merasa ada


Buncit, 30 Mei 2009, Alan


Blog Entrysebuah pispot May 22, '09 4:40 AM
for everyone
Terlalu penuh ruang-ruang kita oleh image visual yang memekakkan. Realitas di penuhi oleh bayang-bayang labur dari kepura-puraan. Akting-akting tak bermakna. Polah tubuh yang di pinggirkan dari hakekat sebenarnya. Inikah dunia kita ?

Apakah kemudian ? Mungkin kita dapat hidup dalam ruang tersebut. Menerima semua khayalan imaginer. Menampung seperti curahan hujan di genteng2 pemaknaan kita. Tak bergolak, hanya menerima saja. Diam, dalam hakekat sebuah pispot. Cekungan yang kemudian busuk dari dalam. Ahh....!!

Selamatkan kami.


alan 

note : foto di ambil di dinding tepi jln Buncit, 10 Mei 2009.

Blog EntryrekatMay 22, '09 3:09 AM
for everyone
persetan badai,
kucing buluk pergilah,
kekacauan, muka muram, mampus!!
ku ingin engkau,


alan

note : foto di Ancol, 10 Mei 2009

Pages:12345